Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ancang-Ancang Pertamina Geothermal (PGEO) Kerek Kapasitas Energi Panas Bumi Nasional

Pertamina Geothermal bakal mengalokasikan sekitar US$289 juta untuk pengembangan bisnis secara organik untuk menjaga margin
Iim Fathimah Timorria,Nyoman Ary Wahyudi
Jumat, 28 Maret 2025 | 14:00
Pertamina Geothermal Energy (PGEO)/www.pge.pertamina.com
Pertamina Geothermal Energy (PGEO)/www.pge.pertamina.com

Bisnis.com, JAKARTA — Kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal nasional berpotensi terkerek, seiring dengan rencana ekspansi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO).

PGEO bakal menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar US$319 juta untuk pengembangan proyek strategis pada 2025.

“Sebagian besar untuk organic development dan business development yang akan kami kerjakan di Indonesia,” kata Direktur Keuangan Pertamina Geothermal Energy Yurizki Rio saat temu media Full Year Result 2024 di Jakarta, Rabu (26/3/2025). 

Sekitar US$289 juta alokasi capex itu bakal diarahkan untuk pengembangan bisnis organik perseroan, sementara sisanya sekitar US$30 juta untuk pengembangan bisnis anorganik. 

Yurizki berharap perseroan dapat menjaga level margin keuntungan sama dengan raihan sepanjang 2023 lalu. Estimasi ini mengacu pada rencana PGEO untuk mengerek produksi listrik ke level 4.930 gigawatt per hour (GWh) pada 2025.

“Nah di sini nanti kita pada dasarnya ingin menjaga margin yang sama dengan tahun 2023,” kata dia. 

Sejalan dengan rencana tersebut, PGEO dan PT PLN Indonesia Power telah menyepakati porsi pembagian saham hingga konsolidasi aset dalam usaha patungan (joint venture/JV) untuk proyek co-generation.

“Sekitar sebulan lalu, kami telah sampai pada kesepakatan akhir. Kami tetap sebagai 51% sampai 70% kemungkinan dan kontrol konsolidasinya akan tetap di level PGEO,” kata Yurizki.

Potensi kapasitas setrum panas bumi dari proyek co-generation ini disebut mencapai 230 megawatt (MW). Adapun, pada tahap awal ini PGEO bersama dengan PLN IP bakal mengejar operasi komersial pada kapasitas 45 MW.

Kapasitas awal co-generation itu berasal dari pengembangan PLTP Lahendong Binary Unit (15 MW) dan PLTP Ulubelu Binary Unit 30 MW, dengan nilai investasi mencapai US$165 juta. Belakangan, Yurizki menambahkan, perseroannya telah memasuki tahap negosiasi dengan PLN terkait dengan shareholder agreement dan proposal independent power producer (IPP).

Ihwal kesepakatan tarif dengan PLN, Yurizki mengatakan PGEO bakal berpedoman pada batas tarif yang diamanatkan dalam Perpres No.112/2022 tentang Percepatan Pengembangan Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

“Dari situ mungkin diskusi kami dengan PLN berkembang,” kata dia.

Menurut dia, proyek co-generation ini bakal ikut mendongkrak kinerja pendapatan dan laba dari PGEO setelah commercial operation date (COD) pada Desember 2026.

“Kalau dilihat average selling price kelistrikan kami itu sekitar 8 sen, mungkin kalau kami apply di 45 MW itu, kami bisa buka itu,” kata dia.

PGEO menargetkan persetujuan final investment decision (FID) untuk proyek ini diteken pada Juli 2025. Selanjutnya pembentukan JV Co dan konstruksi proyek dikejar masing-masing pada Agustus dan Oktober tahun ini.

Tren Kapasitas Panas Bumi Global

Di tengah rencana PGEO, laporan terbaru Badan Energi Terbarukan Internasional (International Renewable Energy Agency/IRENA) mengungkap lonjakan kapasitas total energi terbarukan global sampai akhir 2024.

Tahun lalu, total kapasitas energi terbarukan mencapai 4.448 gigawatt (GW), naik 585 GW atau 15,1% dibandingkan dengan kapasitas tahun sebelumnya.

Dari tambahan kapasitas tersebut, energi surya menjadi sektor yang berkontribusi paling besar terhadap kenaikan kapasitas. IRENA mencatat tambahan sektor ini mencapai 451,9 GW pada 2024 dengan sumbangan dari China menembus 278 GW dari total ekspansi.

Sebaliknya, kapasitas energi panas bumi atau geothermal bertambah paling sedikit dibandingkan dengan sumber terbarukan lainnya seperti tenaga air, angin dan bioenergi. Sepanjang 2024, tambahan kapasitas energi panas bumi hanya sekitar 380 MW sehingga menjadi 15.427 MW secara global.

Dari tambahan tersebut, Selandia Baru menjadi kontributor ekspansi terbesar dengan tambahan kapasitas sebesar 225 MW, dari 1.050 MW pada 2023 menjadi 1.275 pada akhir 2024.

Indonesia menempati peringkat kedua dengan tambahan kapasitas energi panas bumi 90 MW sepanjang 2024. Tambahan tersebut membuat total kapasitas geothermal Indonesia di angka 2.688 MW atau yang terbesar kedua secara global setelah Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, Filipina yang memiliki kapasitas terpasang energi panas bumi terbesar ketiga tercatat tidak melakukan penambahan sepanjang 2024. Total kapasitas geothermal di negara tersebut bertengger di angka 1.952 MW.

Laporan IRENA juga mencatat bahwa peningkatan kapasitas energi terbarukan cenderung timpang secara geografis seperti tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan kapasitas masih berpusat di Asia dengan kontribusi ekspansi terbesar berasal dari China. Negeri Panda tercatat menyumbang 64% dari total penambahan kapasitas tahun lalu. 

Amerika Tengah dan Karibia menyumbang paling sedikit, hanya 3,2% dari total ekspansi global. Di antara negara-negara ekonomi utama, negara-negara G7 menyumbang 14,3% dari kapasitas baru, sedangkan G20 berkontribusi 90,3%.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper