Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Proyek DME Dinilai Butuh Investasi Tinggi dan Bebani Masyarakat

Proyek DME memang dapat menggantikan 15% impor LPG Indonesia. Namun, kelayakan ekonominya meragukan, mengingat profitabilitasnya tidak pasti.
Tumpukan batu bara di depan cerobong asap industri dengan latar langit biru./Bloomberg - Waldo Swiegers
Tumpukan batu bara di depan cerobong asap industri dengan latar langit biru./Bloomberg - Waldo Swiegers

Bisnis.com, JAKARTA — Proyek gasifikasi batu bara menjadi dimetil eter (DME) berkapasitas 1,4 juta ton yang didorong Presiden Prabowo Subianto dinilai bukan investasi yang layak.

Analis Keuangan Energi Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Ghee Peh mengatakan biaya pengembangan proyek DME cukup tinggi mencapai US$3,1 miliar, profitabilitasnya meragukan, dan manfaat yang tidak signifikan, jadi penyebabnya.

“Mempertimbangkan peluang dan biaya, serta harga energi lebih tinggi yang harus ditanggung masyarakat, proyek DME bukan investasi yang layak,” ujarnya dikutip dari laman resmi IEEFA, Rabu (2/4/2025). 

Menurutnya, proyek DME tersebut memang dapat menggantikan 15% impor LPG Indonesia. Namun, kelayakan ekonominya meragukan, mengingat profitabilitasnya tidak pasti.

Hal ini berkaca pada proyek DME Shanxi Lanhua yang berhenti produksi lantaran biaya produksinya mencapai US$533 per ton, jauh lebih tinggi dari harga DME di China sebesar US$460 per ton pada 2023.

Untuk proyek DME di Indonesia, sebelumnya PT Bukit Asam (Persero) Tbk menghitung kebutuhan biaya sebesar US$2 miliar pada 2020.

Dengan faktor inflasi 30%, Ghee memperkirakan biaya tersebut dalam melonjak menjadi US$2,6 miliar pada 2025 ini. Padahal, masih ada keuntungan yang hilang dengan batu bara diproses menjadi DME, alih-alih dijual begitu saja.

Mengacu laporan keuangan PT Bukit Asam per September 2024, perusahaan untung US$8 untuk setiap ton batu bara yang dijual. Jika 6,5 juta ton batu bara harus dialihkan untuk proyek DME pada harga yang mengacu biaya tunai produksi (cash cost), akan ada keuntungan yang hilang mencapai US$520 juta selama 10 tahun.

“Sehingga total biaya proyek DME akan menyentuh US$3,1 miliar dengan belanja modal US$2,6 miliar ditambah hilangnya keuntungan US$520 juta, mencapai 70% dari biaya impor LPG Indonesia US$4,3 miliar per tahun, di mana volume impor LPG 7 juta ton. Namun, proyek ini hanya akan menghasilkan 1 juta ton setara energi LPG,” katanya. 

Selain itu, biaya produksi DME juga cukup tinggi, yakni mencapai US$614 per ton hingga US$651 per ton, setelah memasukkan komponen biaya batu bara dan non batu bara dalam produksinya. Angka tersebut lebih tinggi dari harga LPG yang telah disetarakan dengan DME. Hal ini lantaran DME menghasilkan energi yang lebih rendah dari LPG yang hanya US$431 per ton.

“Jadi meski pada batas bawah biaya produksi non-batu bara, harga DME US$183 per ton atau 42% lebih mahal dari harga LPG, Maret 2025,” tuturnya Ghee. 

Dia menilai masyarakat Indonesia harus membayar 42% lebih mahal untuk setiap unit energi daripada ketika memakai LPG.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Yanita Petriella
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper