Bisnis.com, JAKARTA – Ruang pendanaan investasi energi baru terbarukan dapat memanfaatkan hubungan Indonesia dengan Timur Tengah. Potensi EBT Indonesia yang cukup besar menimbulkan minat berbagai negara untuk berinvestasi, termasuk negara-negara di kawasan Timur Tengah.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan bermitra dengan negara-negara Timur Tengah dapat menjadi alternatif solusi transisi energi bagi Indonesia.
Bhima menyebut terdapat 3 faktor pendorong utama yang dapat menjadi katalisator kerja sama yang dapat didorong. Pertama, negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, UEA, dan Qatar sedang mendorong diversifikasi investasi di luar sektor migas.
“Data IEA menunjukkan pada 2024 Timur Tengah telah melakukan investasi sebesar US$175 miliar di sektor energi, sebesar 15% di antaranya adalah investasi pada fasilitas energi terbarukan. Momentum ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk menarik investasi transisi energi dari Timur Tengah,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu 26/2/2025).
Kedua, hubungan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah, baik secara bilateral, maupun melalui kerja sama multilateral seperti G20 (Arab Saudi) dan BRICS (UEA dan Arab Saudi) sudah terjalin harmonis dan dapat menjadi bekal untuk memperluas kesepakatan pada investasi EBT.
Dari sisi perdagangan luar negeri, Bhima mengatakan Uni Emirates Arab merupakan negara kedua terbesar mitra dagang kawasan Timur Tengah. “Artinya, kerja sama dalam bentuk pendanaan transisi energi dapat dimaknai sebagai bentuk lain dari kemitraan yang selama ini sudah terjalin baik,” katanya.
Baca Juga
Ketiga, kerja sama transisi energi membawa manfaat tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi Timur Tengah. Manfaat mutual ini dapat diperoleh dari keuntungan masa depan yang cukup potensial.