Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Menilik Konsep 10 Minute City Diusung Pengembang Demi Kurangi Emisi Karbon

Dengan konsep ten minutes city ini dapat berkontribusi menurunkan emisi karbon sebesar 40% hingga 60% akibat berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi.
Kawasan Gading Serpong. /istimewa
Kawasan Gading Serpong. /istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Dalam beberapa tahun terakhir, konsep pengembangan kawasan 10-minute city hingga 15-minute city bergaung. Konsep ini dikembangkan untuk mengurangi emisi karbon dengan mengurangi penggunaan mobil dan waktu perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Konsep 10-minute city dan 15-minute city ini menciptakan lingkungan yang terlokalisasi di mana warga dapat memperoleh semua yang mereka perlukan dalam waktu 15 menit dengan berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup.

Konsep dapat dijangkau dalam waktu 10 menit hingga 15 menit ini memerlukan lingkungan serba guna dibandingkan zona khusus untuk bekerja, tinggal dan hiburan sehingga mengurangi kebutuhan akan perjalanan yang tidak perlu, memperkuat rasa kebersamaan, dan meningkatkan keberlanjutan dan kelayakan untuk ditinggali.

Sebelumnya, perencanaan wilayah kota digunakan untuk bisnis atau hiburan dimana terfragmentasi menyebabkan perluasan kota dimana masyarakat harus melakukan perjalanan jauh melintasi kota untuk mencapai tujuan. Namun, di masa mendatang, pembangunan perkotaan memprioritaskan strategi infrastruktur yang bertujuan untuk menyatukan semua elemen untuk hidup dan bekerja ke dalam komunitas lokal.

Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Nirwono Yoga mengatakan pada awalnya konsep 15-minute city yang diadopsi oleh kota-kota dunia seperti Paris, Barcelona, dan Melbourne. Kota-kota tersebut melakukan revitalisasi agar bisa dijangkau setiap area dalam 15 menit.

Konsep 15-minute city tersebut lahir pascapandemi Covid-19 dimana memberikan pembelajaran bahwa kawasan yang saling terintegrasi ini memberikan rasa aman. Sebuah kawasan bisa bertahan karena dapat dijangkau dengan berjalan kaki dan sepeda.

“Jadi yang pertama kali itu konsep kota 15 menit, bukan 10 menit. Jadi dengan menggunakan sepeda dan jalan kaki bisa menjangkau lokasi kerja, rumah, pertokoan dan pasar. Jadi ini kota di dalam sebuah kota dimana menawarkan kemudahan mengakses dengan berjalan kaki maupun bersepeda,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (28/2/2025). 

Konsep 15-minute city ini mulai diadopsi oleh pengembang menjadi 10-minute city untuk diterapkan di proyek properti.

Menurut Nirwono, penerapan konsep 10-minute city ini harus dipenuhi dengan penyediaan jaringan transportasi publik berbasis listrik, area pedestrian pejalan kaki, dan ruang terbuka hijau. Pasalnya, untuk menempuh antar area dalam konsep ten minute city ini dihitung dengan berjalan kaki.

“Tanpa trotoar atau pedestrian yang nyaman yakni lebar dan teduh akan membuat penghuni menjadi enggan berjalan kaki, malah menggunakan kendaraan pribadi. Penyediaan transportasi umum juga penting agar penghuni tidak menggunakan kendaraan pribadi,” katanya. 

Menurutnya, dengan konsep ten minutes city ini dapat berkontribusi menurunkan emisi karbon sebesar 40% hingga 60%. Hal ini karena mengurangi penggunaan kendaraan pribadi terutama berbahan bakar fosil. 

“Tidak boleh sembarangan konsep. Ada syaratnya ten minutes city yakni ada jaringan transportasi umum listrik, area pejalan kaki, dan ruang terbuka hijau dalam mengakses kawasan yang terdiri dari hunian, komersial, kantor. Jadi jangan hanya gimmick,” ucapnya. 

Dia menilai penerapan konsep 10-minute city ini akan menambah value kawasan properti. Terlebih, saat ini masyarakat tengah fokus pada kesehatan.

“Kawasan perumahan yang mengusung ten minute city tentu punya value properti berbeda, karena concern akan kesehatan dan polusi udara,” ucap Nirwono. 

CEO Leads Property Services Indonesia Hendra Hartono menuturkan konsep 10-minute city ini umumnya dapat menjangkau kawasan hanya dengan berjalan kaki. Adapun konsep ten minutes city ini diterapkan dalam city within in a city dimana kebutuhan terpenuhi hanya dalam berjalan kaki dalam satu kawasan yang berskala kota. 

“Jadi mau ke supermarket, kantor, maupun rumah ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Memang idealnya jalan kaki itu maksimum 10 menit dari tujuan akhir.  Sebenarnya trend ini atau konsep ini berasal dari 10 menit jalan kaki dari Transit Oriented Development (TOD) atau MRT station ke apartemen atau CBD atau sebaliknya,” tuturenya. 

Di luar negeri seperti Singapura, Hong Kong, Tokyo sudah berkonsep 10 menit jalan kaki dan Jakarta MRT juga mau implementasi yang sama. Menurutnya, jika konsep 10-minute city ini diterapkan oleh pengembang maka kuncinya adanya dukungan transportasi umum dan pedestrian yang nyaman untuk berjalan kaki.

Menurutnya, konsep ten minutes city ini mendukung gaya hidup green living yang semakin dilirik sebagai salah satu upaya mencegah pemanasan global dan perubahan iklim yang makin ekstrem.

Green living identik dengan konsep sustainability, zero waste dan eco friendly. Konsep green living juga mengedepankan penggunaan transportasi yang ramah lingkungan, seperti bersepeda atau berjalan kaki, serta memilih kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Green living bukan hanya sekadar memperbaiki lingkungan, namun juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan dan keberlangsungan hidup.

“Gaya hidup ini mencakup pengurangan emisi karbon, dengan memilih moda transportasi umum, bersepeda, dan jalan kaki. Bersepeda dan jalan kaki, termasuk olahraga yang mudah dan ringan tetapi jika dilakukan secara rutin akan membuat tubuh jadi lebih sehat,” terang Hendra. 

Direktur Paramount Land Norman Daulay menuturkan pengembang dalam membangun proyek properti di Gading Serpong berkomimten dengan perencanaan produk yang matang dan berfokus dalam menciptakan long-term sustainable business secara jangka panjang.

Pengembangan kawasan Paramount Gading Serpong secara berkelanjutan mulai dari konsep masterplan, membuka akses jalan baru, meningkatkan infrastruktur, hingga mengembangkan traffic management system untuk mengurangi kemacetan. Terlebih, populasi penduduk di Gading Serpong menjadi 120.000 jiwa yang tinggal di 40 klater. Jalan boulevard di Gading Serpong dilintasi lebih dari 6.500 kendaraan per jam. 

Adapun masterplan pengembangan kawasan di Gading Serpong mengusung keberlanjutan dimana perusahaan mengembangkan mega distrik dengan konsep 10-minute city dengan pedestrian yang memadai. Hal ini upaya pengembang mengurangi jejak karbon.

“Kawasan mega distrik ini nantinya bisa dijangkau selama 10 menit enggak perlu jauh jauh dan memiliki pedestrian sehingga bisa jalan kaki. Misalnya Pasadena Central Mega Distrik 40 hektare ada premium residensial, komersial, sehingga bisa diakses dengan jarak yang dekat dan berjalan kaki,” ujarnya kepada Bisnis. 

Pengembang tengah membangun Pasadena Central District menjadi kawasan komersial seluas 40 hektare di Gading Serpong yang dapat memenuhi kebutuhan harian penghuni seperti sebuah kota. Pasadena Central District dikelilingi lingkungan yang sudah hidup dan hanya berjarak walking distance sekitar 10 menit menuju hunian premium Pasadena Grand Residences.

“Distrik ini memang konsepnya komersial dekat dengan hunian, city within a city dan konsep ten minute city di mana kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dalam jarak 10 menit. Yang bisa diakses hanya dengan berjalan kaki selama 10 menit jadi ini menimbulkan gaya hidup sehat,” katanya. 

Distrik baru ini mengusung konsep green yang mengutamakan keterbukaan yakni open space dan akses terbuka. Selain itu, memiliki green spine yang menaungi jalan penghubung utama, sehingga suasananya akan sangat asri dan nyaman bagi orang yang berkendara maupun berjalan kaki.

Adapun saat ini pengemban tengah menggarap proyek komersial Pasadena Square North fase 2 di Pasadena Central Distric. Area komersial ini berkonsep evertyhing is near, everthing is hear yang mengutamakan kedekatan lokasi dengan area lainnya di Gading Serpong, termasuk hunian, komersial, dan fasilitas kota lain.

“Pasadena Square North fase 2 mengusung konsep modern dengan keunggulan yang sama dengan yang dihadirkan di fase 1 yang diperkenalkan pada bulan September 2024 lalu. Fase 2 ada 3 tipe yakni regular, alfresco single facade, dan alfresco double facade, memiliki 3 lantai dengan ukuran bervariasi, yakni lebar 4,5 meter, 5,5 meter, dan 6 meter, serta panjang 14 meter hingga 18 meter,” ucapnya.

Kawasan tersebut memiliki Pasadena Walk yang merupakan area pedestrian hijau dengan lebar 7 meter yang memiliki green spine dan menghubungkan Pasadena Square North dengan hunian Grand Pasadena Village dan future development lainnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Yanita Petriella
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper