Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

China Operasikan Turbin Angin Terapung Terkuat di Dunia

China mengoperasikan turbin angin terapung terkuat di dunia, OceanX, yang memperkuat dominasi energi bersihnya. Sementara itu, negara lain menghadapi tantangan politik dan ekonomi.
Turbin angin terapung yang dibangun di China. /Bloomberg
Turbin angin terapung yang dibangun di China. /Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah meningkatnya biaya dan oposisi politik yang menghambat proyek-proyek dari Rhode Island hingga Jepang, Beijing memperluas pengaruhnya di industri energi bersih lainnya.

Di lepas pantai China selatan, sebuah turbin raksasa berkepala ganda muncul di antara turbin-turbin konvensionalnya ditopang oleh jaring laba-laba kabel baja dan ditambatkan ke dasar laut melalui tiga titik tambatan berwarna kuning cerah.

Desain OceanX mendorong batas-batas rekayasa mampu memanfaatkan lebih banyak tenaga angin daripada turbin terapung lain yang beroperasi di dunia saat ini. Desain ini juga merupakan simbol yang fasih dari ambisi perusahaan-perusahaan teknologi hijau China yang mengamankan dominasi di industri energi bersih lainnya, sedangkan para pemain andalan di Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang menghadapi kemunduran politik dan ekonomi.

Berdasarkan laporan BloombergNEF, China yang ketergantungannya pada impor berarti keamanan energi selalu menjadi prioritas utama telah memimpin dunia dalam hal penggunaan sumber listrik terbarukan termasuk pembangkit listrik tenaga surya yang luas di gurun-gurun barat tetapi juga deretan turbin yang dibangun di laut di mana mereka dapat mengakses arus udara yang andal dan lebih kuat. Tahun ini, China akan memasang hampir 3 dari setiap 4 turbin lepas pantai baru di dunia.

Kisahnya sangat berbeda di tempat lain terutama di AS, di mana Presiden Donald Trump telah mencemooh ladang angin sebagai pembunuh burung dan paus yang mengerikan. Trump menargetkan energi angin di hari pertamanya menjabat dengan menghentikan persetujuan untuk proyek lepas pantai baru. Pemerintahannya menghentikan proyek yang hampir selesai dan membuat investor resah serta memicu jatuhnya harga saham pengembangnya di Denmark, Orsted A/S, perusahaan yang telah memimpin sektor ini selama lebih dari tiga dekade sejak membangun ladang angin lepas pantai pertama di dunia.

Kini, bersama operator lain di Eropa, AS, dan Jepang, Orsted tengah berjuang mengatasi berkurangnya dukungan pemerintah dan biaya yang terus melonjak, akibat komponen yang lebih mahal, suku bunga yang tinggi, dan infrastruktur yang terbatas.

Mitsubishi Corp. memberikan pukulan terbaru dengan mengumumkan bahwa grup yang dipimpinnya akan menarik diri dari tiga proyek angin lepas pantai di Jepang, dengan alasan rantai pasokan yang lebih ketat dan kenaikan biaya sejak tender tersebut diperoleh pada tahun 2021.

Peneliti Global Energy Monitor Yujia Han mengatakan jaringan proyek angin lepas pantai China tetap kuat karena keunggulan dalam pembiayaan, integrasi rantai pasokan, dukungan kebijakan, dan peningkatan teknologi.

"Anda memiliki arena bermain berupa pasar yang besar dan beragam yang menyediakan platform keterampilan dan inovasi yang dibutuhkan semua perusahaan domestik untuk membangun daya saing global mereka," ujarnya dilansir Bloomberg, Jumat (29/8/2025). 

Para pemain terbesar China memanfaatkan peluang ini. Produsen turbin, termasuk Goldwind Science & Technology Co. dan Ming Yang Smart Energy Group, yang membangun OceanX, semakin ingin bersaing secara internasional dan bersaing dengan pemain andalan industri seperti Vestas Wind Systems A/S, Siemens Gamesa Renewable Energy SA, dan General Electric Co.

Analis Energi Trivium China Cosimo Ries menuturkan produsen China akan menguasai sebagian besar pangsa pasar karena keunggulan biaya mereka yang sangat besar dan juga kesulitan besar yang dihadapi banyak perusahaan Barat saat ini.

"Ini akan sangat, sangat sulit bagi mereka untuk memperluas kapasitas dan berinvestasi seperti yang dilakukan perusahaan China," ucapnya. 

Bahkan di jantung Eropa yang mengembangkan industri ini setelah krisis minyak tahun 1970-an, proyek angin lepas pantai mulai kehilangan peminatnya. Skotlandia mungkin telah menandatangani kontrak untuk lokasi yang berpotensi menjadi lokasi terbesar di dunia tetapi lelang di Jerman bulan ini berakhir tanpa satu pun penawaran karena harga naik.

Masalah-masalah ini terdengar sangat familiar bagi para produsen China yang telah berhasil bertahan dari gejolak domestik dan persaingan yang ketat. Pada akhir tahun 2021, pemerintah menghapuskan tarif feed-in nasional, yang menjamin tarif premium, yang menyebabkan instalasi memecahkan rekor pada tahun itu sebelum turun tajam setelahnya.

Pengembang China juga terpaksa beroperasi semakin jauh di laut karena jumlah lokasi utama di dekat pantai menyusut. Di beberapa daerah, hal ini mendorong para pengembang untuk melawan pembatasan militer.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut, terutama berakhirnya subsidi nasional, para pengembang beralih ke skala yang lebih besar, yang berarti proyek-proyek yang lebih besar dan turbin yang lebih besar lagi. Hasilnya adalah energi bersih untuk kota-kota pesisir China dan penurunan harga yang tajam. Biaya median tenaga angin lepas pantai di China sekarang kurang dari setengah biaya di Inggris yang merupakan pasar terbesar kedua. 

Namun, mereplikasi keunggulan tersebut di luar negeri tidaklah semudah yang terjadi di sektor energi baru lainnya yang didominasi China termasuk panel surya, baterai, dan kendaraan listrik dan rintangan utamanya adalah ukurannya yang sangat besar. Turbin angin ini dapat melampaui Menara Eiffel, yang berarti perakitannya lebih seperti proyek konstruksi daripada manufaktur tradisional, dengan sebagian besar pekerjaan harus dilakukan di dekat lokasi instalasi akhir.

Di salah satu pabrik milik Ming Yang di kota nelayan Yangjiang, 250 kilometer di sebelah barat Hong Kong, skalanya terlihat jelas. Pada suatu pagi di awal Agustus, puluhan pekerja berjalan melintasi platform melengkung yang menyerupai papan selancar raksasa dengan panjang lebih dari 100 meter, yang akan segera dirakit menjadi bilah turbin angin.

"Kami termasuk di antara perusahaan besar pertama yang beroperasi di sini. Sejak itu, lebih dari 30 pemasok hulu dan hilir di sektor tenaga angin telah mengikuti,"  kata Ma Liming, Manajer Umum Ming Yang. 

Presiden Bisnis Internasional Ming Yang Zhang Qiying menuturkan saat ini sekitar 15% dari hasil produksi pabrik ditujukan ke pasar luar negeri seperti Italia. Porsi tersebut diperkirakan hampir dua kali lipat pada akhir tahun.

Saat ini, turbin Yangjiang terutama memasok ladang angin besar di lepas pantai Guangdong, salah satu provinsi dengan perekonomian paling dinamis di China dan konsumen listrik utama. Provinsi ini ingin membangun kapasitas angin lepas pantai sebesar 17 gigawatt pada tahun 2025 lebih besar daripada yang telah dibangun oleh satu negara pun selain China hingga saat ini.

Kondisi geologi wilayah tersebut dasar laut berupa tanah liat lunak di atas batuan keras yang sulit dibor telah mendukung pembangunan struktur berukuran super besar karena pengembang berusaha menekan biaya. Turbin di sini sekitar 20% lebih besar daripada rata-rata nasional.

Namun, mesin-mesin raksasa buatan China ini belum diadopsi secara cepat di tempat lain, sebagian karena rekam jejak operasional yang terbatas sehingga pengembang, perusahaan asuransi, dan pemodal asing kurang bersemangat untuk ikut serta terutama di kawasan seperti Eropa dengan pemain yang sudah mapan dan sudah ada.

"Ini perbedaan besar dari sebelumnya. Kami telah berbicara dengan banyak pengembang Barat sekarang, karena kami memiliki lebih banyak produk dan teknologi inovatif," terangnya. 

Sejauh ini, hanya satu lokasi lepas pantai di Eropa proyek Taranto di Italia selatan yang menggunakan turbin Tiongkok. Sementara itu, sebuah ladang angin di Jerman berusaha membatalkan pesanannya dengan Ming Yang, setelah kesepakatan tersebut memicu pengawasan dari pemerintah Jerman dan peringatan dari industri angin Eropa terkait keamanan nasional dan persaingan tidak sehat.

Ming Yang mengonfirmasi bahwa mereka tidak lagi terlibat dalam proyek Jerman tersebut tetapi mengatakan tetap berkomitmen pada pasar Eropa dan sedang menjajaki peluang termasuk produksi lokal.

Kuncinya adalah meyakinkan pemerintah dan perusahaan teknik Eropa bahwa perusahaan China akan tetap ada untuk menyediakan layanan dan pemeliharaan yang baik selama 25 atau 30 tahun ke depan, dan dapat melakukan upaya seperti membangun tim lokal. Sementara itu, pasar Eropa juga perlu mengubah perspektif mereka terhadap produsen China dengan menyambut produk-produk baru dan lebih inovatif.

"Saya yakin itu akan terjadi ini adalah energi angin lepas pantai yang lebih bersih dan lebih murah. Tapi Anda tidak bisa melakukan itu dengan hambatan," tutur Zhang. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Yanita Petriella
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro