Bisnis.com, JAKARTA — Goldman Sachs Group Inc. mengungkap bahwa mereka telah mencapai lebih dari 80% dari target pembiayaan berkelanjutan senilai US$750 miliar. Target tersebut ditetapkan perusahaan untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon serta mendorong pertumbuhan inklusif.
Bank investasi asal Wall Street itu mengumumkan pencapaian tersebut dalam laporan tahunan 10K yang dirilis pada Kamis (27/2/2025) waktu setempat. Dalam dokumen yang sama, Goldman juga menghapus target keberagaman yang sempat dilaporkan. Langkah ini sejalan dengan langkah serupa yang dilakukan oleh beberapa bank AS lainnya.
Mengutip Bloomberg, Goldman menegaskan bahwa pihaknya dapat mendorong keberlanjutan dengan bermitra dengan klien, mengembangkan solusi pembiayaan berkelanjutan, memberikan nasihat strategis, atau berinvestasi bersama dalam perusahaan energi.
Pembaruan ini muncul di tengah tekanan terhadap bank-bank Wall Street. Mereka tengah menghadapi serangan dari pemerintahan Trump terkait kebijakan keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (diversity, equity and inclusivity/DEI), serta komitmen net zero.
Pada Desember lalu, Goldman menjadi bank Wall Street pertama yang keluar dari Net-Zero Banking Alliance (NZBA), meskipun perusahaan tetap menyatakan komitmennya untuk membantu klien bertransisi ke ekonomi rendah karbon.
Goldman Sachs menetapkan target pendanaan berkelanjutan US$750 miliar pada akhir 2019. Target yang berlaku hingga akhir dekade ini mencakup aktivitas pembiayaan, investasi, dan penasihat keuangan.
Baca Juga
Artinya, pendapatan dari merger dan akuisisi, serta konsultasi untuk penawaran saham perdana (IPO), juga termasuk dalam target tersebut, selain pinjaman dan obligasi. Dana ini akan dialokasikan untuk perusahaan di sektor energi bersih, transportasi rendah karbon, serta pangan dan pertanian berkelanjutan.
Meskipun pembiayaan iklim menghadapi tantangan besar di AS di bawah pemerintahan Trump, transisi energi tetap menarik investasi dalam jumlah rekor. Menurut BloombergNEF, investasi global dalam transisi energi melampaui US$2 triliun untuk pertama kalinya pada 2024.