Bisnis.com, JAKARTA — Meningkatnya kebijakan anti iklim dan lingkungan Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump telah berdampak negatif ke pasar obligasi hijau. Kondisi ini membuat negara-negara berkembang makin kesulitan menggalang dana untuk proyek-proyek lingkungan mereka.
Penjualan obligasi hijau negara berkembang tercatat turun sekitar sepertiga menjadi US$8 miliar sepanjang 2025. Tanpa menghitung China, Bloomberg mencatat nilai penerbitan ini menjadi yang terendah sejak 2022. Penurunan ini terjadi meskipun ada peningkatan 18% dalam penerbitan obligasi secara keseluruhan dari negara-negara berkembang, yang mencapai US$225 miliar.
Performa ini terjadi di tengah sentimen negatif AS terhadap kebijakan iklim. Pemerintahan Trump telah memutuskan hengkang dari Perjanjian Paris dan berhenti melanjutkan komitmen pendanaan transisi energi di negara berkembang dalam Just Energy Transition Partnership (JETP). Di dalam negeri, Trump juga menghalangi implementasi investasi berbasis environmental, social and governance (ESG) sehingga memicu gelombang eksodus perusahaan Wall Street dari komitmen iklim.
Lesunya pasar obligasi hijau, ditambah dengan kebijakan AS, makin mempersulit negara-negara berkembang untuk mendapatkan pendanaan dari negara kaya dalam merealisasikan transisi energi dari bahan bakar fosil.
"Percakapan tentang jenis investasi hijau apa yang akan masuk ke pasar dan siapa yang tertarik sudah mulai melambat tahun lalu," kata Jeff Grills, kepala utang lintas-aset dan pasar negara berkembang di Aegon Asset Management. "Sekarang, dengan pemerintahan yang baru, pembicaraan itu hampir menghilang."
Tahun ini, Wells Fargo & Co. menjadi bank besar pertama yang meninggalkan target pengurangan emisi dari pembiayaannya, menyusul serangkaian bank Wall Street lainnya yang menarik diri dari Net-Zero Banking Alliance (NZBA), aliansi iklim terbesar di industri perbankan. Sejak Trump kembali ke Gedung Putih, perusahaan-perusahaan AS hampir sepenuhnya meninggalkan obligasi hijau, yang sebelumnya dianggap sebagai cara bagi korporasi untuk berkontribusi dalam mengatasi krisis iklim.
Baca Juga
Meskipun pasar obligasi hijau untuk negara berkembang masih berjalan, hampir 80% penerbitannya berasal dari negara dengan peringkat investasi, seperti Arab Saudi. Negara tersebut menjual obligasi hijau euro perdana senilai 1,5 miliar euro atau sekitar US$1,6 miliar) pada Februari untuk mendanai rencana transformasi ekonomi yang ambisius.
Secara historis, negara-negara berkembang, kecuali China dan beberapa lainnya seperti Polandia dan Chili, cenderung tertinggal dalam memanfaatkan pasar obligasi untuk mendanai proyek-proyek pengurangan emisi gas rumah kaca. Banyak negara, terutama di Afrika, hingga kini belum mengumpulkan dana dengan cara ini.