Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengemukakan sejumlah faktor yang menyebabkan pemakaian energi baru terbarukan (EBT) masih berada di bawah target, terlepas dari potensi pasokan listrik dari pembangkit bersih yang besar.
Potensi EBT yang diidentifikasi Kementerian ESDM setidaknya mencapai 3.687,74 gigawatt (GW) secara nasional. Namun, pemanfaatan energi terbarukan dalam sektor ketenagalistrikan baru menyentuh 0,4% atau sekitar 14.877 megawatt (MW) hingga Desember 2024.
Direktur Aneka EBT Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan terdapat faktor yang mempengaruhi rendahnya pemanfaatan energi terbarukan di Tanah Air. Beberapa di antaranya adalah pertumbuhan permintaan yang tidak sesuai dan kendala teknis di lapangan dalam proses konstruksi proyek EBT.
“Ada pula kendala pendanaan dan ketersediaan data detail mengenai potensi EBT yang masih terbatas,” kata Andriah dalam acara Institute for Essential Service Reform (IESR), Kamis (27/2/2025).
Andriah mengatakan peningkatan pemanfaatan EBT memerlukan kolaborasi konkrit antara pemerintah, sektor swasta, akademisi hingga organisasi masyarakat sipil. Pengembangan energi terbarukan di Indonesia, lanjutnya, juga memerlukan inovasi bisnis dan pendanaan.
“Mengingat investasi EBT terbilang masih mahal dan memiliki risiko yang tinggi. Ada pula masalah ketersediaan data yang mendetail,” sambungnya.
Baca Juga
Dia mengemukakan pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk meningkatkan daya tarik investasi EBT, seperti penguatan regulasi dan peninjauan aturan untuk penyederhanaan perizinan. Andriah mengungkap bahwa Kementerian ESDM kini tengah menyusun peraturan menteri untuk pembangkit hibrid.
“Kami juga memonitor RUPTL [rencana usaha penyediaan tenaga listrik] secara berkala, kemudian memfasilitasi proyek yang terkendala, dan memastikan proyek pembangkit bisa tepat waktu. Kami juga menjalin kerja sama dengan berbagai stakeholder baik di dalam negeri maupun luar negeri untuk pembiayaan,” katanya.